Beli Token Listrik Rp 100 Ribu Dapat Berapa kWh? Simak Rincian Tarif PLN Periode 16-22 Februari 2026

Dipublikasikan: 2026-02-16 21:59:58

Foto : web.pln.co.id

Update Tarif Token Listrik PLN 16-22 Februari 2026: Cek Rincian kWh untuk Daya 900 VA hingga 6600 VA

JAKARTA – Memasuki pekan ketiga di bulan Februari 2026, PT PLN (Persero) memastikan stabilitas harga token listrik bagi pelanggan prabayar di seluruh Indonesia. Berdasarkan pantauan terbaru untuk periode 16 hingga 22 Februari 2026, skema tarif tenaga listrik (TTL) masih merujuk pada ketentuan penyesuaian tarif yang berlaku untuk kuartal pertama tahun ini. Hal ini menjadi informasi penting bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang ingin mengatur pengeluaran rumah tangga agar tetap efisien di tengah dinamika ekonomi awal tahun.

Kepastian mengenai besaran kWh (kilowatt-hour) yang didapatkan pelanggan saat membeli token listrik sangat bergantung pada golongan daya yang terpasang di hunian masing-masing. Meskipun tarif dasar per kWh cenderung stabil, variabel lain seperti Pajak Penerangan Jalan (PPJ) yang berbeda di tiap daerah tetap menjadi faktor penentu hasil akhir kWh yang masuk ke meteran listrik Anda.

Kepastian Tarif Listrik di Tengah Dinamika Ekonomi Awal Tahun

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PLN terus berupaya menjaga agar tarif listrik tidak membebani daya beli masyarakat. Untuk periode 16-22 Februari 2026, tidak ada perubahan mendadak pada tarif per kWh bagi golongan pelanggan nonsubsidi maupun subsidi. Langkah ini diambil guna menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional yang diprediksi terus menguat hingga akhir dekade ini.

Stabilitas tarif ini juga menjadi angin segar bagi para pelaku usaha mikro dan industri kecil yang sangat bergantung pada kestabilan biaya operasional energi. Bagi pelanggan prabayar, memahami rincian perolehan kWh sangat krusial agar tidak terjadi pemutusan aliran listrik mendadak di saat-saat penting, termasuk saat menikmati hiburan digital atau bekerja dari rumah.

Simulasi Perolehan kWh: Beli Token Rp 50 Ribu dan Rp 100 Ribu Dapat Berapa?

Banyak pelanggan seringkali bertanya-tanya mengapa nominal token yang dibeli tidak menghasilkan angka kWh yang bulat atau sama persis setiap bulannya. Hal ini disebabkan adanya potongan biaya admin dan PPJ. Namun, sebagai gambaran kasar untuk periode 16-22 Februari 2026, berikut adalah simulasi perolehan kWh jika Anda membeli token senilai Rp 50.000 dan Rp 100.000:

Rincian Perolehan kWh untuk Berbagai Golongan Daya

  1. Golongan R-1/900 VA RTM (Rumah Tangga Mampu):

    • Tarif yang berlaku untuk golongan ini adalah sekitar Rp 1.352 per kWh.

    • Jika membeli token Rp 50.000, pelanggan diperkirakan mendapatkan sekitar 34 hingga 36 kWh (setelah dipotong biaya admin dan pajak).

    • Untuk pembelian token Rp 100.000, perolehan kWh berkisar di angka 70 hingga 73 kWh.

  2. Golongan R-1/1300 VA ke Atas (1300 VA, 2200 VA, hingga 6600 VA):

    • Pelanggan di golongan ini dikenakan tarif yang sama, yaitu sekitar Rp 1.444,70 per kWh.

    • Dengan pembelian token Rp 50.000, jumlah kWh yang didapat adalah sekitar 31 hingga 33 kWh.

    • Sementara untuk token seharga Rp 100.000, pelanggan akan menerima sekitar 65 hingga 68 kWh di layar meteran mereka.

Penting untuk dicatat bahwa angka-angka di atas adalah estimasi rata-rata nasional. Perbedaan besaran PPJ di tiap kabupaten/kota—yang berkisar antara 3% hingga 10%—akan membuat perolehan kWh di Jakarta sedikit berbeda dengan di Surabaya atau Medan meskipun nominal tokennya sama.

Memahami Komponen Biaya: Mengapa Nominal Token Tidak Sama dengan kWh?

Saat Anda memasukkan 20 digit angka token ke meteran, jumlah yang muncul bukanlah rupiah, melainkan volume energi dalam satuan kWh. Ada tiga komponen utama yang mengurangi saldo rupiah Anda sebelum dikonversi menjadi kWh:

  • Biaya Administrasi: Biaya ini biasanya berkisar antara Rp 2.500 hingga Rp 5.000, tergantung pada kanal pembayaran yang Anda gunakan, baik itu aplikasi perbankan, minimarket, maupun dompet digital.

  • Pajak Penerangan Jalan (PPJ): Merupakan pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah untuk membiayai penerangan jalan umum. Besaran persentasenya ditetapkan oleh masing-masing pemerintah daerah.

  • Materai: Khusus untuk pembelian token dalam jumlah besar (biasanya di atas Rp 5 juta), akan dikenakan biaya materai sesuai aturan perpajakan yang berlaku.

Setelah dikurangi biaya-biaya tersebut, sisa saldo barulah dibagi dengan tarif per kWh sesuai golongan daya Anda untuk menghasilkan angka kWh akhir.

Tips Hemat Listrik ala Gen Z: Maksimalkan Penggunaan Gadget Tanpa Bikin Kantong Jebol

Bagi generasi muda yang aktif secara digital, penggunaan listrik seringkali didominasi oleh perangkat elektronik seperti laptop, smartphone, konsol game, hingga perangkat smart home. Agar token listrik tidak cepat habis, ada beberapa strategi cerdas yang bisa diterapkan:

  1. Gunakan Perangkat Inverter: Saat memilih alat elektronik seperti AC atau kulkas, pastikan memilih teknologi inverter yang lebih hemat daya hingga 30% dibandingkan perangkat konvensional.

  2. Cabut Colokan yang Tidak Terpakai: Meskipun tidak sedang mengisi daya, kabel yang masih menempel pada stopkontak tetap menyerap arus listrik kecil (vampire power). Membiasakan mencabut kabel bisa menghemat tagihan bulanan secara signifikan.

  3. Optimalkan Pencahayaan Alami: Gunakan lampu LED yang memiliki daya rendah namun terang maksimal, dan pastikan mematikan lampu saat ruangan mendapatkan sinar matahari cukup.

  4. Pantau Melalui PLN Mobile: Aplikasi PLN Mobile kini sudah sangat canggih. Anda bisa memantau riwayat pembelian token dan melihat tren penggunaan listrik mingguan agar konsumsi tetap terkendali.

Cek Berkala dan Manfaatkan Kanal Resmi

Stabilitas tarif listrik pada periode 16-22 Februari 2026 merupakan bukti komitmen pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat. Dengan mengetahui estimasi kWh untuk pembelian Rp 50.000 dan Rp 100.000, Anda bisa melakukan perencanaan keuangan dengan lebih presisi.

Selalu gunakan aplikasi resmi atau kanal pembayaran terpercaya untuk menghindari biaya admin yang berlebihan. Mari menjadi konsumen yang cerdas dengan rutin memantau sisa kWh di meteran dan segera melakukan pengisian sebelum alarm peringatan berbunyi. Dengan pengelolaan yang baik, energi listrik akan selalu tersedia untuk mendukung segala aktivitas produktif dan kreativitas Anda sepanjang hari.

← Kembali