.webp)
Medan, 31 Januari 2026 –
Dunia kripto di tahun 2026 tidak lagi hanya diisi oleh manusia yang saling
bertukar aset. Saat ini, sebuah fenomena baru bernama AI Agent tengah
mengambil alih ekosistem digital. AI Agent adalah program kecerdasan buatan
yang memiliki "dompet kripto" sendiri dan mampu melakukan analisis
pasar, mengeksekusi transaksi, hingga melakukan strategi yield farming
secara mandiri berdasarkan parameter yang ditetapkan oleh pemiliknya.
Fenomena ini dipicu oleh semakin
matangnya integrasi antara model bahasa besar (LLM) dengan infrastruktur smart
contract. Hasilnya? Sebuah sistem keuangan otonom (Autonomous Finance)
di mana uang bekerja untuk manusia melalui perantara asisten virtual yang
sangat cerdas.
Vitalik Buterin: AI Akan
Membantu Keamanan Blockchain
Pendiri Ethereum, Vitalik
Buterin, dalam tulisannya di blog pribadi dan presentasinya di konferensi
teknologi awal Januari (10 Januari 2026), menyoroti peran krusial AI
dalam menjaga ekosistem kripto.
"AI bukan hanya pelengkap,
tapi akan menjadi pemain kunci dalam verifikasi kode smart contract. AI
Agent dapat mendeteksi bug atau celah keamanan secara real-time sebelum
peretas sempat mengeksploitasinya. Di tahun 2026, kita akan melihat lebih
banyak transaksi yang dilakukan oleh AI daripada oleh manusia langsung,"
jelas Vitalik.
Balaji Srinivasan: AI Agent
Adalah 'Warga Digital' Baru
Mantan CTO Coinbase dan penulis The
Network State, Balaji Srinivasan, memberikan pandangan yang lebih
radikal dalam podcast teknologi pada (20 Januari 2026).
Menurutnya, AI Agent adalah subjek ekonomi baru.
"AI Agent adalah entitas
yang bisa menghasilkan pendapatan. Mereka bisa menjadi pekerja lepas digital,
menjual jasa analisis data, dan menerima bayaran dalam bentuk kripto. Kita
sedang memasuki era di mana ekonomi internet dijalankan oleh jutaan AI yang
saling berinteraksi secara otonom," ungkap Balaji.
Risiko dan Keamanan: Hati-hati
dengan "AI Rogue"
Meski terdengar sangat
menguntungkan, para ahli keamanan siber dari Chainalysis (dalam laporan
tahunan Januari 2026) memperingatkan risiko baru. Mereka menemukan tren di mana
AI Agent yang tidak dikonfigurasi dengan benar justru melakukan "panik
jual" saat pasar sedikit bergejolak, yang bisa memicu flash crash
di bursa-bursa kecil.
Selain itu, muncul isu mengenai "AI Scam", di mana bot AI yang terlihat sangat pintar digunakan untuk merayu investor Gen Z di media sosial agar mengirimkan dana ke kontrak pintar yang berbahaya.
Tren AI Agent di tahun 2026
adalah bukti bahwa batas antara kecerdasan buatan dan sistem keuangan semakin
tipis. Kita tidak lagi hanya bicara tentang "beli rendah, jual
tinggi", tapi tentang bagaimana membangun asisten digital yang bisa
mengelola masa depan finansial kita. Bagi pembaca CotengNews, tahun ini
adalah waktu yang tepat untuk mulai mempelajari bagaimana cara
"mempekerjakan" AI di dalam portofolio investasi kalian.