Bitcoin "Berdarah": Terperosok ke Level USD 65.000 Akibat Efek Kejut Tarif Trump

Dipublikasikan: 2026-02-23 13:43:30

Photo by Kanchanara on Unsplash

Bitcoin Terjangkit "Demam" Tarif Trump: Harga Anjlok di Bawah Level Psikologis USD 65.000 

Pasar kripto global kembali dikejutkan oleh volatilitas tinggi pada akhir Februari 2026. Aset kripto terbesar di dunia, Bitcoin (BTC), secara mengejutkan terkoreksi tajam hingga menembus ke bawah level psikologis USD 65.000 atau setara dengan kurang lebih Rp1,08 miliar per koin. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global yang dipicu oleh retorika kebijakan tarif perdagangan Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump.

Sentimen negatif ini menyapu bersih optimisme "bullish" yang sempat merajai pasar beberapa waktu lalu. Para investor kini tampak cenderung melakukan langkah defensif dengan menarik modal dari aset berisiko tinggi (risk-on) dan beralih ke aset yang dinilai lebih aman.

Mengapa Tarif Trump Membuat Market Kripto Panik?

Banyak pihak bertanya-tanya, apa kaitan antara tarif perdagangan konvensional dengan aset digital seperti Bitcoin? Jawabannya terletak pada stabilitas ekonomi makro. Berdasarkan laporan dari KumparanBisnis dan Liputan6, rencana Donald Trump untuk mengenakan tarif universal sebesar 10% hingga 20% bagi seluruh barang impor, serta tarif khusus mencapai 60% untuk produk asal China, telah memicu kekhawatiran inflasi baru di Amerika Serikat.

Berikut adalah poin-poin utama mengapa kebijakan ini menjadi racun bagi Bitcoin:

  1. Ancaman Inflasi Baru: Tarif impor yang tinggi akan menaikkan harga barang di AS. Jika inflasi kembali melonjak, Bank Sentral AS (The Fed) kemungkinan besar akan menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan kembali menaikkannya.

  2. Suku Bunga Tinggi vs Kripto: Secara historis, Bitcoin dan aset kripto lainnya tumbuh subur dalam lingkungan suku bunga rendah. Ketika suku bunga tetap tinggi, daya tarik Bitcoin sebagai aset investasi spekulatif menurun dibandingkan obligasi pemerintah yang lebih aman.

  3. Perang Dagang Global: Ketidakpastian arah perdagangan internasional membuat investor institusi lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di instrumen yang memiliki volatilitas tinggi.

Analisis Pergerakan Harga: Bitcoin Pecah Rekor Terendah Pekanan 

Mengutip data dari Indodax Academy dan Investor.id, Bitcoin kehilangan momentum kenaikannya setelah gagal bertahan di level support kuat. Penurunan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga didorong oleh kepanikan massal (panic selling).

Level Psikologis yang Terlewati 

Bitcoin sebelumnya diprediksi akan terus berkonsolidasi di kisaran USD 68.000 hingga USD 70.000. Namun, tekanan jual yang masif membuat harganya merosot lebih dari 5% dalam waktu singkat, hingga menyentuh kisaran USD 64.200 per koin. Di Indonesia, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS membuat harga Bitcoin di bursa lokal seperti Indodax tertahan di angka Rp1,08 miliar hingga Rp1,1 miliar, meskipun dalam denominasi USD koreksinya terasa lebih dalam.

Dampak Efek Domino pada Altcoins 

Anjloknya "Raja Kripto" ini secara otomatis menyeret aset digital lainnya ke zona merah. Ethereum (ETH) terpantau melemah di kisaran USD 2.400, sementara aset populer lainnya seperti Solana (SOL) dan Cardano (ADA) juga mencatatkan penurunan dua digit persentase. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketergantungan pasar terhadap pergerakan Bitcoin masih sangat dominan.

Dampak Nyata pada Investor Gen Z 

Bagi generasi Z yang merupakan salah satu basis investor kripto terbesar, situasi ini menjadi ujian mental yang berat. Dikutip dari pengamatan pasar di Detik Finance, mayoritas investor retail cenderung panik saat melihat portofolio mereka memerah. Namun, para analis menekankan pentingnya memahami siklus pasar jangka panjang.

Ketidakpastian politik di AS sering kali menjadi "kebisingan" jangka pendek. Meskipun tarif Trump dipandang negatif oleh pasar saat ini, beberapa pengamat justru melihat potensi Bitcoin sebagai "Digital Gold" yang nantinya bisa menjadi alat lindung nilai jika terjadi devaluasi mata uang fiat akibat perang dagang yang berkepanjangan.

Pandangan Pakar: Apa yang Harus Dilakukan Sekarang?

Pakar ekonomi dan analis kripto memberikan beberapa rekomendasi strategis dalam menghadapi badai ini. Dirangkum dari berbagai sumber otoritas keuangan:

  • Wait and See: Jangan terburu-buru melakukan all-in atau melakukan cut loss dalam kondisi emosional. Pantau terus pernyataan resmi dari tim ekonomi Trump dan data inflasi AS (CPI).

  • Diversifikasi: Pastikan portofolio tidak hanya terpusat pada satu aset. Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, memiliki cadangan dana tunai (stablecoin) sangat penting untuk mengambil peluang saat harga mencapai titik terendah (buy the dip).

  • Edukasi Literasi Keuangan: Pahami bahwa investasi kripto memiliki risiko kehilangan modal yang besar. Gunakan uang "dingin" yang tidak dialokasikan untuk kebutuhan pokok sehari-hari.

Langkah Trump yang agresif dalam kebijakan perdagangan internasional memang telah mengubah peta jalan pasar keuangan global. Namun, sejarah mencatat bahwa Bitcoin sering kali bangkit lebih kuat setelah mengalami koreksi dalam akibat guncangan geopolitik.

← Kembali