Era Baru Uang Digital: BI Resmi Luncurkan Uji Coba Rupiah Digital Tahap Retail

Dipublikasikan: 2026-01-31 02:53:41


Medan, 31 Januari 2026 – Sejarah baru baru saja terukir dalam sistem keuangan Indonesia. Bank Indonesia (BI) secara resmi memulai tahap uji coba terbatas (sandboxing) Rupiah Digital untuk sektor retail. Langkah ini merupakan kelanjutan dari Proyek Garuda yang telah direncanakan sejak beberapa tahun silam, menandai pergeseran besar cara masyarakat Indonesia berinteraksi dengan uang.

Peluncuran yang dilakukan di Jakarta pada akhir Januari 2026 ini bukan sekadar digitalisasi uang kartal, melainkan penciptaan instrumen pembayaran sah yang memiliki status hukum sama dengan uang kertas, namun hadir dalam bentuk kode digital yang diamankan oleh teknologi blockchain yang dikelola bank sentral.

Pernyataan Pejabat Negara: Menjamin Kedaulatan dan Keamanan

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam konferensi pers bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta (28 Januari 2026), menegaskan bahwa Rupiah Digital retail adalah langkah defensif sekaligus ofensif dalam menjaga kedaulatan ekonomi.

"Rupiah Digital tahap retail ini akan menjadi backbone transaksi masa depan. Kita tidak hanya bicara soal kemudahan transfer, tapi soal kehadiran negara di tengah maraknya aset digital swasta yang fluktuatif. Pemerintah menjamin bahwa setiap unit Rupiah Digital didukung 100% oleh cadangan negara," tegas Menteri Purbaya.

Beliau juga menambahkan bahwa integrasi Rupiah Digital dengan sistem perpajakan akan membuat belanja negara jauh lebih transparan dan efisien.

Sudut Pandang Ahli Dalam Negeri: Inklusi vs Edukasi

Pakar ekonomi digital dari Universitas Indonesia, Dr. Pratama Persadha (disampaikan dalam webinar nasional pada 15 Januari 2026), menyoroti aspek keamanan siber yang harus menjadi prioritas utama.

"Peluncuran tahap retail berarti menyentuh masyarakat luas. Tantangan terbesarnya bukan pada teknologinya, melainkan pada literasi digital masyarakat. BI harus memastikan bahwa digital wallet pemerintah ini imun terhadap serangan phishing yang masih marak di Indonesia," jelasnya.

Menurut Dr. Pratama, Rupiah Digital memiliki potensi luar biasa untuk menjangkau penduduk di daerah 3T yang selama ini kesulitan mengakses bank fisik, asalkan infrastruktur jaringan sudah siap.

Perspektif Global: Indonesia Sebagai Pemimpin CBDC di Asia Tenggara

Dari kancah internasional, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), yang dalam kunjungannya ke kawasan ASEAN pada pertengahan Januari 2026, memberikan apresiasi terhadap langkah Indonesia.

"Indonesia menunjukkan kepemimpinan yang progresif dalam implementasi CBDC. Proyek Garuda adalah salah satu contoh paling ambisius di pasar berkembang (emerging markets). Kunci keberhasilannya adalah bagaimana Indonesia menyeimbangkan antara transparansi transaksi untuk mencegah pencucian uang dengan perlindungan privasi individu," ungkap perwakilan IMF tersebut.

Isu Privasi: Kekhawatiran Utama Masyarakat

Salah satu poin paling panas dalam peluncuran ini adalah kekhawatiran masyarakat mengenai "pengawasan total" oleh pemerintah. Menanggapi hal ini, Gubernur Bank Indonesia dalam Annual Investment Forum di Bali (20 Januari 2026) menyatakan bahwa Rupiah Digital retail akan menggunakan model two-tier.

  1. Level Intermediari: Bank komersial dan penyedia jasa pembayaran akan tetap menjaga kerahasiaan data nasabah.
  2. Level Sentral: Bank sentral hanya akan melihat data agregat untuk kepentingan kebijakan moneter, bukan untuk memantau transaksi harian individu secara spesifik.

Peluncuran Rupiah Digital tahap retail di awal 2026 ini adalah lompatan besar. Meski menawarkan efisiensi tinggi dan penguatan nilai tukar, pemerintah masih memiliki PR besar dalam hal sosialisasi dan penguatan keamanan siber. Bagi investor dan pelaku usaha, ini adalah sinyal bahwa ekonomi digital Indonesia telah memasuki fase matang dan teregulasi dengan baik.

← Kembali